Powered By Blogger

Sunday, 2 October 2016

Untuk Mereka

 Tema: “Pers Sebagai Pahlawan”
#Great3rdCOMPETITIONFEUNJ

Pemberitaan kemarin salah satu berita yang membuat aku tegang, sekaligus takut. Coba saja, aku meliput sebuah kejadian konflik kerusuhan ‘Tawuran’ antar warga juga anak muda. Genggaman tangan untuk mengambil gambar tak lepas melihat ke arah lain. Kalau-kalau ada benda melayang yang nyasar menimpaku. Aku seorang wartawan yang bekerja di surat kabar Media Indonesia. Sekaligus Cerpenis yang selalu ku isi di surat kabar tempat dimana aku bekerja.
            Kebetulan, selama aku menjalankan profesi sebagai Jurnalis selama lima tahun, aku begitu memiliki pengalaman yang begitu ganda. Mendapat pekerjaan seperti ini, juga tanda pengenal Pers bernama diriku sendiri, Aryo. Pengalaman pertama ketika aku bertemu musisi hebat dari mancanegara, yang manggung di Indonesia. Menulis berita tentang mereka memang sudah menjadi setiap hari dimana aku selalu menjalankan aktivitas bekerja seperti ini. Dan selalu membuat berita yang baik untuk menyegarkan mata masyarakat saat mata mereka akan membaca informasi di surat kabar yang terbit keesokan harinya.
            Suara siren Polisi berdatangan, massa itu kabur entah kemana. Hanya aku sendiri, yang mengambil gambar dari kamera, juga menyiapkan isi kepala untuk merangkai berita. “Kamu wartawan dari media mana?” ucap salah satu Polisi berbadan tegap. Berwajah tegas. Juga suara intonasi yang terdengar begitu di segani orang. Daritadi, aku hanya diam, fokus kepada mereka yang kabur saat bidikan kamera berhasil mengambil gambar untuk melalui jalur seleksi. “Saya dari Media Indonesia, Pak,” jawabku, memperlihatkan kartu tanda pengenal diriku sendiri. Sosok polisi itu menganggukan kepalanya, lalu mengangkat HT dan berbicara kepada rekannya untuk memberitahukan tempat kejadian.
            “Mereka kabur. Entah kemana. Jalanan berantakan, bekas-bekas batu yang mereka lempar berbekas di jalan aspal. Sebagian ada yang ngelempar bom Molotov.” Ucapnya.
            “Disini saya sedang mengejar sebagian yang lain. Yang ikut terlibat. Mereka berpencar.”
            “Saya disini mengamankan keadaan.”
            Aku mulai mengikuti langkah sosok polisi berbadan tegap itu. Bernama Julianto yang sedang mengambil beberapa seperti batu-batu, dan pecahan beling dari botol. Aku menulis beberapa barang bukti yang sedang dipegangnya. Dan suara HT itu terdengar kembali. Mengagetkan sosok seorang Julianto itu dengan cepat dan tanggap menjawabnya. “Bagus, bawa kesini orang yang sudah berhasil ditangkap. Kita mintai keterangan!” suara tegasnya masuk ke telinga pendengaranku.
            Tak menunggu beberapa lama, mobil polisi yang katanya sempat berpencar itu datang. Membawa dua orang yang berhasil ditangkap itu. seorang polisi bernama Julianto, berjalan dengan tegap. Menghampiri dua orang itu, lalu segera diintrogasi ditempat. Aku dikerumuni oleh lima wartawan. Sebagian wartawan dari Media Televisi. “Kamu asal mana? Masalahnya kenapa bisa terjadi seperti ini?” tanyanya kepada dua orang itu. Terlihat menundukkan kepalanya. Keduanya itu hanya diam membisu.
            Aku bersiap untuk mencatat jawaban dari dua orang yang berhasil ditangkap. Terus ditatar berupa pertanyaan dari Polisi, mereka akhirnya menjawab juga. “Saya asal dari gang sana, Pak. Gak jauh dari tempat kejadian.” Kata seorang itu berpakaian berwarna biru. Satunya, memakai baju putih hanya diam.
            “Kenapa bisa terjadi ini?”
            “Saya kelompok preman yang selalu buat masyarakat sini resah, Pak,” jawabnya lagi.
            Catatan jawaban dari seorang yang tertangkap bisa aku jelaskan melalui rangkai berita. Sudah jelas keduanya itu, adalah seorang preman. Dari kartu tanda penduduk yang dilihat polisi. Polisi juga menggeledah seorang preman yang memakai baju putih. Terbukti menyimpan sabu di kantong celananya. Mereka keduanya langsung dibawa. Dan aku pergi ke suatu tempat, menyelesaikan pekerjaan ini. Menulis berita dan memulai dari paragraf awal.
            Aku melamun memandang tulisan berita yang setengah kukerjakkan. Takut ada yang salah dalam memilah kata, atau kata-kata yang berujung typo. Aku selalu mendapat tanggapan dari bagian Editing, melihat tulisanku ada yang salah ketik. Mereka begitu jeli, melihat seluruh tulisan berita yang kutulis dan tidak hanya aku, beberapa wartawan yang bekerja juga merasakan hal yang sama. Menulis berita sudah menjadi bagian hidup, sebagai pekerjaan mulia. Juga seperti menulis cerita berupa cerpen yang juga ikut terbit di rubrik hari Minggu harian Media Indonesia.
            Dan mereka, masyarakat. Mereka selalu butuh informasi dari beberapa berita yang selalu muncul. Berita sosial, berita hukum, berita kriminal, berita musik, atau berita lainnya. Hidupku selalu menuruti dan melayani mereka. Sebagai pahlawan untuk dunia. Sadar, bahwa pekerjaanku memang benar mulia, dan benar pahlawan. Kusadari kata-kata itu dari beberapa artikel mengenai sosok seorang Jurnalis, atau seorang kekasihku sendiri, Melly. Yang bekerja di suatu perusahaan Bank Dunia.

                                                                        _____

Tempat café di Jakarta begitu lengang, sebentar-sebentar aku melihat beberapa pajangan figura mengenai tulisan seperti kata motivasi hidup. Atau motivasi dalam kopi berbagai macam rasa-rasa. Memang jatahku libur sekarang, namun aku menggantikan Yusril, salah satu bagian wartawan lapangan yang mendapatkan jatah untuk meliput café yang selalu ramai di mata masyarakat yang selalu mereka kunjungi. Aku menerimanya, dan aku ditemani Melly, karena aku yang mengajaknya. Melly tidak repot jika aku tinggal sendirian yang sedang menikmati kopi disana. Isyarat kepalanya menandakkan bahwa aku harus melaksanakan tugas kerjanya. Dan aku pergi menuju bagian officer disana.
            Aku bertemu salah seorang atasan, yang mempunyai beberapa kata-kata jawaban yang siap aku catat tuk dijadikan berita. Dia salah satu pendiri, karena rasa cintanya dengan kopi. Dari hobi, dan pertama kali mengenal kopi dari sosok Ayahnya yang setiap pagi selalu sarapan kopi. “Ayah saya yang menularkan saya inspirasi, hingga terjadilah sekarang. Tapi disini, saya sebagai pengelola juga mengeluarkan beberapa menu kopi yang berbeda dari lainnya. Kadang kopi dicampur rasa buah-buahan.” Ucapnya yang bernama Ferry. Suaranya yang serius, sosok dari matanya yang terlihat terbuka kepada seorang Jurnalis sepertiku yang sedang mendengar beberapa jawaban darinya dan mencatat.
            “Yang mereka suka dari kopi rasa buah-buahan apa, Pak?” tanyaku lanjut.
            Dia mengangguk, segera menjawabnya kembali. “Kopi bercampur aroma rasa Anggur. Saya selalu melihat beberapa tanggapan dari mereka, mereka bilang begitu unik, katanya. Hehehehe. Tapi bersyukur, dan mampu membuat saya lebih fokus kepada kopi bearoma buah. Tapi tak lupa juga, kopi yang benar-benar rasa kopi. Kalau buah, itu cuma selingan tapi harus ikut serius juga.”
            “Oke. Apa dari café ini sudah punya cabang?”
            “Belum. Baru disini. Mungkin, satu saya akan buka cabang di Bandung. Doakan saja.” Jawabnya tersenyum.
            Aku pergi dengan hormat, tak lupa memesan satu kopi lagi, kopi aroma buah-buahan. Aku memilih rasa Anggur. Tepat dimana masyarakat menilai rasa kopi itu sendiri. Tadinya, aku memesan kopi cokelat yang lebih full cokelatnya. Lumayan untuk meningkatkan gairah menulis berita, sebagai seorang pengganti dari teman sesame profesi. “Aku tinggal nulis berita dulu gak apa-apa, kan, ya?” tanyaku. Dia menggeleng. “Baguslah.” Aku tertawa sesingkat. Menunggu kopi aroma rasa Anggur datang ke mejaku. Melly diam, menatap handphone-nya di saat aku mulai menulis berita sekarang.
            “Karena seorang pekerja pahlawan harus menuruti masyarakat, kan?” katanya tiba-tiba saat tengah sibuk menulis. Aku diam. Tidak memandanginya. Malah mendengar apa yang diucapkan Melly tadi.
            Aku tertawa, menggeleng pelan. “Bisa aja.”
            “Emang bener, kan? Beberapa kali aku pernah bilang soal ini sama pekerjaan kamu. Pekerjaan mulia dan pahlawan bagi bangsa, kan?”
            “Iya, iya, deh. Makasih!” jawabku riang. Terus menulis hingga terkumpul lima halaman.
            Tak lupa mengambil beberapa objek didalam tempat ini. Aku memilih tuk mengambil gambar dari dalam suasana café. Suasana yang terlihat begitu nyaman dipandang. Atau jika kamu berimajinasi, imajinasi berputas melihat suasana ini seperti ingin kamu jadikan tempat tinggal saja. Yang setiap hari selalu bernuansa minuman kopi. Kopi aroma buah Anggur belum aku sesap. Aku menjawab “Iya” saat pesanan itu datang tanpa memandang pelayan karena aku sibuk sekali merangkai berita.
            “Kopinya tuh, gak di minum?” mata Melly menatap terus ke kopi yang ada di sebelahku.
            Aku langsung menanggapnya. “Aku lagi editing kata-kata dulu.” Ya, semua sudah rampung, aku langsung mengoreksi lewat dariku sebelum nantinya berpindah jalur lewat bagian editing. Aku menyicilnya, sebelum bagian editing yang akan membereskannya. Dan melihat-lihat rangkaian berita yang sudah kubuat tadi. Semuanya beres, dan semuanya telah rampung sesuai fakta dari lapangan. Tak lupa aku mengucapkan terima kasih kepada Yusril, berkatnya, aku sekaligus menikmati liburanku bersama kopi.
            Kepalaku mulai kugerakkan ke kanan dan ke kiri. Tulang-tulang leher berbunyi, lalu menyambung di pargelangan tangan. Jari-jariku, terutama. Hasil mengetik berita. Berita tentang café kopi yang mempunyai menu unik dipandang masyarakat. Juga dipandang bagiku. Kuambil cangkir putih yang belum aku sesap, sebuah kopi yang masih terlihat penuh. Lidahku bermain, ikut merasa. Lidah yang kumainkan didalam mulut, merasakan rasa kopi bercampur Anggur yang menjadi satu. Begitu enak. Dan benar, kopi ini yang selalu di nilai di mata masyarakat yang menyukainya.

Tulisan cerpen ini, dalam rangkaian acara kompetisi yang diselenggarakan oleh @Econochannel dengan hastag lomba #Great3rdCOMPETITIONFEUNJ dari Universitas Negeri Jakarta 2016.
           

            

Untuk Mereka

 Tema: “Pers Sebagai Pahlawan”
#Great3rdCOMPETITIONFEUNJ

Pemberitaan kemarin salah satu berita yang membuat aku tegang, sekaligus takut. Coba saja, aku meliput sebuah kejadian konflik kerusuhan ‘Tawuran’ antar warga juga anak muda. Genggaman tangan untuk mengambil gambar tak lepas melihat ke arah lain. Kalau-kalau ada benda melayang yang nyasar menimpaku. Aku seorang wartawan yang bekerja di surat kabar Media Indonesia. Sekaligus Cerpenis yang selalu ku isi di surat kabar tempat dimana aku bekerja.
            Kebetulan, selama aku menjalankan profesi sebagai Jurnalis selama lima tahun, aku begitu memiliki pengalaman yang begitu ganda. Mendapat pekerjaan seperti ini, juga tanda pengenal Pers bernama diriku sendiri, Aryo. Pengalaman pertama ketika aku bertemu musisi hebat dari mancanegara, yang manggung di Indonesia. Menulis berita tentang mereka memang sudah menjadi setiap hari dimana aku selalu menjalankan aktivitas bekerja seperti ini. Dan selalu membuat berita yang baik untuk menyegarkan mata masyarakat saat mata mereka akan membaca informasi di surat kabar yang terbit keesokan harinya.
            Suara siren Polisi berdatangan, massa itu kabur entah kemana. Hanya aku sendiri, yang mengambil gambar dari kamera, juga menyiapkan isi kepala untuk merangkai berita. “Kamu wartawan dari media mana?” ucap salah satu Polisi berbadan tegap. Berwajah tegas. Juga suara intonasi yang terdengar begitu di segani orang. Daritadi, aku hanya diam, fokus kepada mereka yang kabur saat bidikan kamera berhasil mengambil gambar untuk melalui jalur seleksi. “Saya dari Media Indonesia, Pak,” jawabku, memperlihatkan kartu tanda pengenal diriku sendiri. Sosok polisi itu menganggukan kepalanya, lalu mengangkat HT dan berbicara kepada rekannya untuk memberitahukan tempat kejadian.
            “Mereka kabur. Entah kemana. Jalanan berantakan, bekas-bekas batu yang mereka lempar berbekas di jalan aspal. Sebagian ada yang ngelempar bom Molotov.” Ucapnya.
            “Disini saya sedang mengejar sebagian yang lain. Yang ikut terlibat. Mereka berpencar.”
            “Saya disini mengamankan keadaan.”
            Aku mulai mengikuti langkah sosok polisi berbadan tegap itu. Bernama Julianto yang sedang mengambil beberapa seperti batu-batu, dan pecahan beling dari botol. Aku menulis beberapa barang bukti yang sedang dipegangnya. Dan suara HT itu terdengar kembali. Mengagetkan sosok seorang Julianto itu dengan cepat dan tanggap menjawabnya. “Bagus, bawa kesini orang yang sudah berhasil ditangkap. Kita mintai keterangan!” suara tegasnya masuk ke telinga pendengaranku.
            Tak menunggu beberapa lama, mobil polisi yang katanya sempat berpencar itu datang. Membawa dua orang yang berhasil ditangkap itu. seorang polisi bernama Julianto, berjalan dengan tegap. Menghampiri dua orang itu, lalu segera diintrogasi ditempat. Aku dikerumuni oleh lima wartawan. Sebagian wartawan dari Media Televisi. “Kamu asal mana? Masalahnya kenapa bisa terjadi seperti ini?” tanyanya kepada dua orang itu. Terlihat menundukkan kepalanya. Keduanya itu hanya diam membisu.
            Aku bersiap untuk mencatat jawaban dari dua orang yang berhasil ditangkap. Terus ditatar berupa pertanyaan dari Polisi, mereka akhirnya menjawab juga. “Saya asal dari gang sana, Pak. Gak jauh dari tempat kejadian.” Kata seorang itu berpakaian berwarna biru. Satunya, memakai baju putih hanya diam.
            “Kenapa bisa terjadi ini?”
            “Saya kelompok preman yang selalu buat masyarakat sini resah, Pak,” jawabnya lagi.
            Catatan jawaban dari seorang yang tertangkap bisa aku jelaskan melalui rangkai berita. Sudah jelas keduanya itu, adalah seorang preman. Dari kartu tanda penduduk yang dilihat polisi. Polisi juga menggeledah seorang preman yang memakai baju putih. Terbukti menyimpan sabu di kantong celananya. Mereka keduanya langsung dibawa. Dan aku pergi ke suatu tempat, menyelesaikan pekerjaan ini. Menulis berita dan memulai dari paragraf awal.
            Aku melamun memandang tulisan berita yang setengah kukerjakkan. Takut ada yang salah dalam memilah kata, atau kata-kata yang berujung typo. Aku selalu mendapat tanggapan dari bagian Editing, melihat tulisanku ada yang salah ketik. Mereka begitu jeli, melihat seluruh tulisan berita yang kutulis dan tidak hanya aku, beberapa wartawan yang bekerja juga merasakan hal yang sama. Menulis berita sudah menjadi bagian hidup, sebagai pekerjaan mulia. Juga seperti menulis cerita berupa cerpen yang juga ikut terbit di rubrik hari Minggu harian Media Indonesia.
            Dan mereka, masyarakat. Mereka selalu butuh informasi dari beberapa berita yang selalu muncul. Berita sosial, berita hukum, berita kriminal, berita musik, atau berita lainnya. Hidupku selalu menuruti dan melayani mereka. Sebagai pahlawan untuk dunia. Sadar, bahwa pekerjaanku memang benar mulia, dan benar pahlawan. Kusadari kata-kata itu dari beberapa artikel mengenai sosok seorang Jurnalis, atau seorang kekasihku sendiri, Melly. Yang bekerja di suatu perusahaan Bank Dunia.

                                                                        _____

Tempat café di Jakarta begitu lengang, sebentar-sebentar aku melihat beberapa pajangan figura mengenai tulisan seperti kata motivasi hidup. Atau motivasi dalam kopi berbagai macam rasa-rasa. Memang jatahku libur sekarang, namun aku menggantikan Yusril, salah satu bagian wartawan lapangan yang mendapatkan jatah untuk meliput café yang selalu ramai di mata masyarakat yang selalu mereka kunjungi. Aku menerimanya, dan aku ditemani Melly, karena aku yang mengajaknya. Melly tidak repot jika aku tinggal sendirian yang sedang menikmati kopi disana. Isyarat kepalanya menandakkan bahwa aku harus melaksanakan tugas kerjanya. Dan aku pergi menuju bagian officer disana.
            Aku bertemu salah seorang atasan, yang mempunyai beberapa kata-kata jawaban yang siap aku catat tuk dijadikan berita. Dia salah satu pendiri, karena rasa cintanya dengan kopi. Dari hobi, dan pertama kali mengenal kopi dari sosok Ayahnya yang setiap pagi selalu sarapan kopi. “Ayah saya yang menularkan saya inspirasi, hingga terjadilah sekarang. Tapi disini, saya sebagai pengelola juga mengeluarkan beberapa menu kopi yang berbeda dari lainnya. Kadang kopi dicampur rasa buah-buahan.” Ucapnya yang bernama Ferry. Suaranya yang serius, sosok dari matanya yang terlihat terbuka kepada seorang Jurnalis sepertiku yang sedang mendengar beberapa jawaban darinya dan mencatat.
            “Yang mereka suka dari kopi rasa buah-buahan apa, Pak?” tanyaku lanjut.
            Dia mengangguk, segera menjawabnya kembali. “Kopi bercampur aroma rasa Anggur. Saya selalu melihat beberapa tanggapan dari mereka, mereka bilang begitu unik, katanya. Hehehehe. Tapi bersyukur, dan mampu membuat saya lebih fokus kepada kopi bearoma buah. Tapi tak lupa juga, kopi yang benar-benar rasa kopi. Kalau buah, itu cuma selingan tapi harus ikut serius juga.”
            “Oke. Apa dari café ini sudah punya cabang?”
            “Belum. Baru disini. Mungkin, satu saya akan buka cabang di Bandung. Doakan saja.” Jawabnya tersenyum.
            Aku pergi dengan hormat, tak lupa memesan satu kopi lagi, kopi aroma buah-buahan. Aku memilih rasa Anggur. Tepat dimana masyarakat menilai rasa kopi itu sendiri. Tadinya, aku memesan kopi cokelat yang lebih full cokelatnya. Lumayan untuk meningkatkan gairah menulis berita, sebagai seorang pengganti dari teman sesame profesi. “Aku tinggal nulis berita dulu gak apa-apa, kan, ya?” tanyaku. Dia menggeleng. “Baguslah.” Aku tertawa sesingkat. Menunggu kopi aroma rasa Anggur datang ke mejaku. Melly diam, menatap handphone-nya di saat aku mulai menulis berita sekarang.
            “Karena seorang pekerja pahlawan harus menuruti masyarakat, kan?” katanya tiba-tiba saat tengah sibuk menulis. Aku diam. Tidak memandanginya. Malah mendengar apa yang diucapkan Melly tadi.
            Aku tertawa, menggeleng pelan. “Bisa aja.”
            “Emang bener, kan? Beberapa kali aku pernah bilang soal ini sama pekerjaan kamu. Pekerjaan mulia dan pahlawan bagi bangsa, kan?”
            “Iya, iya, deh. Makasih!” jawabku riang. Terus menulis hingga terkumpul lima halaman.
            Tak lupa mengambil beberapa objek didalam tempat ini. Aku memilih tuk mengambil gambar dari dalam suasana café. Suasana yang terlihat begitu nyaman dipandang. Atau jika kamu berimajinasi, imajinasi berputas melihat suasana ini seperti ingin kamu jadikan tempat tinggal saja. Yang setiap hari selalu bernuansa minuman kopi. Kopi aroma buah Anggur belum aku sesap. Aku menjawab “Iya” saat pesanan itu datang tanpa memandang pelayan karena aku sibuk sekali merangkai berita.
            “Kopinya tuh, gak di minum?” mata Melly menatap terus ke kopi yang ada di sebelahku.
            Aku langsung menanggapnya. “Aku lagi editing kata-kata dulu.” Ya, semua sudah rampung, aku langsung mengoreksi lewat dariku sebelum nantinya berpindah jalur lewat bagian editing. Aku menyicilnya, sebelum bagian editing yang akan membereskannya. Dan melihat-lihat rangkaian berita yang sudah kubuat tadi. Semuanya beres, dan semuanya telah rampung sesuai fakta dari lapangan. Tak lupa aku mengucapkan terima kasih kepada Yusril, berkatnya, aku sekaligus menikmati liburanku bersama kopi.
            Kepalaku mulai kugerakkan ke kanan dan ke kiri. Tulang-tulang leher berbunyi, lalu menyambung di pargelangan tangan. Jari-jariku, terutama. Hasil mengetik berita. Berita tentang café kopi yang mempunyai menu unik dipandang masyarakat. Juga dipandang bagiku. Kuambil cangkir putih yang belum aku sesap, sebuah kopi yang masih terlihat penuh. Lidahku bermain, ikut merasa. Lidah yang kumainkan didalam mulut, merasakan rasa kopi bercampur Anggur yang menjadi satu. Begitu enak. Dan benar, kopi ini yang selalu di nilai di mata masyarakat yang menyukainya.

Tulisan cerpen ini, dalam rangkaian acara kompetisi yang diselenggarakan oleh @Econochannel dengan hastag lomba #Great3rdCOMPETITIONFEUNJ dari Universitas Negeri Jakarta.
           

            

Thursday, 14 July 2016

Pertanda Aku Meninggalkan

Ribuan dan ratus duri siap merajam siapapun
yang ingin melintas demi cakrawala. Air mata yang
di sambut hangat para manusia bermata yang berbeda
pun menyala tajam dan sebelah lembut gemulai.

Perlintasan jalan tiga tahun merasuki arti hati
yang kubaca dan kutuliskan. Rasa pada tangan
ku gapai dengan waktu pas untukku. Rambut hingga
kening yang merasa aku ingin memberikan kecupan
manis tanpa halangan nafsu menguasai diriku, merusak diri,
yang hanya sementara. Hanya sebuah kecupan manis untuknya.
Sosoknya.

Lembaran juga waktu tuk sama-sama meninggalkan, aku juga.
tanpa melihatmu lalu hanya bisa bicara pada burung ciptaan Tuhan.
Rasa cinta tersimpan dan terdengar jawaban membuatku begitu
ringkih. Tiap-tiap tapak tanpa melihatnya hingga rasa tetap ada.
Akan ada.

Tanda-tanda itu memanggilku.
Akankah kita di pertemukan kembali?

Photo By: Aflaha 

Monday, 20 June 2016

Kolam ItuPunya Cinta


Foto: Aflaha Rizal
Puisi: Aflaha Rizal




Butiran terlempar beberapa bagian dari kantong plastik putih. Taburan-taburan
kecil-kecil dilempar pada kolam yang penuh sesak pada ikan-ikan memburu angkasa
cemerlang berjatuhan. Kesukaan mereka. Hidup dan nafas mereka, seperti cinta tak
hanya dimiliki manusia semata. Lintasan perahu kayu didayung membawa penumpang menjalani
putaran kolam yang amat lebar dan penuh ikan-ikan berhinggap disana.

Kolam itu tak pernah sedikit dan tak pernah pudar akan cintanya pada sesama binatang.
Sesuatu tersembunyi tersimpan disana dan dikunci hingga kita tak pernah tahu isi didalamnya. Pada kolam jernih dan dingin, menembus kulit salah satu kuncinya kenyamanan ikan-ikan tersimpan sana. Lebih baik meratapi bersama kolam menaburkan beberapa butiran makanan yang penuh makna hingga membuat ikan itu sehat.

Kolam dan cinta, kepunyaan bentuk itu sendiri, hingga suatu waktu memutar kembali dan kembali menjadi pagi mereka takkan pernah tidur. Rumah mereka dan kawan-kawan bersatu tanpa terambil dengan jahil memindahkan satu insan ikan ke tempat lain.


Senyuman pandangan mereka kian senang menaburkan makanan pada tangan-tangan melayang, mata berbinar-binar dimiliki sang manusia kecil bentuk keberhasilan mengundang cinta itu datang pada sosoknya. Bahkan ribuan cinta yang datang. 

Friday, 10 June 2016

Aku Mendengar Suara Pembicaraan Orang

Kereta berjalan dalam satu waktu, roda yang berbunyi melintasi
rel besi panas. Di dalam yang mempunyai keramaian manusia yang berbeda-
beda. Sosial yang berbeda, butiran senyuman-senyuman anak kecil yang terungkap.
Kukaitkan tangan ini pada gantungan dalam kereta.
Tak sengaja dan tak sengaja, aku begitu sendiri.
Tujuan yang entah membawaku kemana, tak ada paku untuk menancap
kemana tujuanku.
Kereta membawa, aku sendiri. Tanpa tujuan, tanpa arah
mengikuti kereta entah kemana. Melekatnya jiwanya nama sosok,
melekatnya jiwa sesuatu yang terpendam, hanya bisa diam.
Ketika tak ada yang menghibur dalam setiap wajah manusia,
mereka semua memilih kepentingannya masing-masing.

Aku begitu sendiri.


“Sekarang, lebih banyak buku di jual online. Toko buku itu mulai bangkrut.”
Kata seorang itu. Di belakang, mendengar dari telinga, berdiri tegap berpegangan
pada kaitan dalam kereta. Dua orang berbadan tambun, membicarakan buku. Seorang
pembaca, maupun seorang penulis. Telinga ini terus mendengar, pembicaraan yang
sedikit membuatku tertarik. Tanpa mengetahui, lalu seperti bukan sosok siapa-siapa.
Tujuan, yang datang padaku. Aku mulai bergegas mencari buku.

Friday, 22 April 2016

Buku Cuaca Sama



Buku: Cuaca Sama
Penerbit: Nulisbuku.com
 Bulan/Tahun Rilis: April 2016
Kategori: Kumpulan Cerpen



Sudah lama tidak mengunjungi blog, bahkan ngisi sesuatu. Udah berapa bulan, ya? Ya, gue lagi disibukkan yang sungguh menguras tenaga. Apalagi ngunjungin blog saja jarang, atau nulis buat di publish di blog gue sendiri. Sebagai hadirnya gue, gue juga disibukkan juga sama menulis buat buku. Buku yang sudah terbit meski lewat jalur indie. Tapi gue yakin, semoga karya gue bisa dibaca, atau dinikmati setiap alur cerita yang gue buat selama tiga minggu gue menulis di bulan Desember. Itu juga gak pernah ada pikiran buat nerbitin indie. Yang dijualnya kadang terbatas.
            Sebagai pembukanya, gue mau melakukan rangkaian dalam isi buku yang gue tulis. Judul yang gue beri tanpa memikirkan terlebih dahulu, tiba-tiba melesat aja kayak tikus kalau gue mau nangkep. Atau larer yang pengen gue tepuk malah kabur duluan. Judulnya Cuaca Sama. Memang bukan novel atau biografi. Tapi disini gue membuat rangkaian kumpulan cerpen yang benar-benar nyambung sama judul yang diatas.
            Gue memang ingin membuatnya beda, walaupun memang udah banyak rangkaian cerita alur-alur kayak cinta romantis, kengenesan hidup yang ditulis, bahkan cuaca hujan. Nah, itu, buku gue itu menyangkut sama cuaca hujan. Dan gue buat plot-nya yang beda. Hujan bukan sesuatu yang suka menganggu, atau berakibat banjir. Tapi gue membuatnya ada di balik hujan itu sendiri. Banyak yang bakalan gue kasih satu yang gue ambil di dalam buku gue. Yang pasti, gue mau membuatnya itu sebagai tindakan istimewa bagi sastra Indonesia yang pasti, sama dunia perbukuan. Di buku Cuaca Sama itu, kalian akan diajak sama karakter-karakter lain dalam satu cerita yang mereka punya bersama hujan. Entah itu sebagai adanya keterikatan persahabatan, kenangan, bahkan mencari uang yang belum pernah diketahui oleh siapapun. Bekerja sebagai jasa payung yang didominasi oleh anak-anak kecil yang selalu basah kuyup di luar menunggu pelanggan yang mau memakai jasanya.
            Mungkin di dalam buku ada yang menyangkut juga percintaan, tapi yang gue sampaikan, meski sudah banyak cerita yang menyangkut dunia percintaan, kengenesan hidup, atau kenangan berupa apalah. Selagi itu tetap itu-itu saja yang gak jauh, jika dibuat plot yang berbeda dan sudut pandangan yang berbeda, yang pasti tidak akan terlihat ‘sudah sering cerita yang kayak gini’. Tapi plot dan alur yang dibuat beda, itu yang akan menjadi sebuah cerita istimewa.
            Dari sampul buku yang diambil, itu salah satu rangkaian ide dari Bokap gue untuk dibuatkan oleh seorang Desainer Sampul. Gue hanya mengikutinya, tinggal cocokin apa itu pantas sampul sama isi dalam ceritanya. Ketika udah jadi, gue menganggap itu cocok sama alur dalam cerita yang gue buat. Tapi, dari penilaian mereka, gue siap apa yang mereka sampaikan supaya gue bisa membuatnya lebih baik lagi. Makanya itu, gue berharap ada sebuah kritik sama saran dari kalian, jika kalian ada yang membeli buku gue dan membacanya. Entah itu salah ketikan, atau karakter yang terkadang campuran sifat-sifatnya, penilaian kalian dan saran kalian yang gue mau. Segitu saja, deh. Jika kalian mau order, bisa cek di link website ini: www.nulisbuku.com
           
            Atau bisa juga lewat e-mail untuk bertanya-tanya kalau mau order: admin@nulisbuku.com.

Enjoyed J

Aflaha Rizal

Monday, 28 December 2015

Kelu Saat Menayapa

December, 20, 2015
Orang-orang begitu ramai di dalam kereta ini, kereta yang akan menuju ke arah Bogor. Bojong Gede tempat aku akan turun disana. Aku bisa lega sekarang, bisa duduk di kursi yang empuk sehabis berjalan seharian di kota Jakarta. Hingga sore ini. Buku RUMAH BAMBU yang sejak tadi kubaca, kupegang sesaat waktu tubuhku merasa rileks untuk duduk sembari membaca. Buku kumpulan cerpen yang memasuki cetakan ke-enam di tahun 2012 cukup membuang mood ku yang bosan. Dan ini kudapatkan di sebuah obral buku yang murah.
            Bab mulai dibuka dengan judul ‘Colt’, dan di pertengahan mulai kantuk menyapa. Kupaksa untuk membaca, tak bisa. Disamping, temanku yang semenjak tadi, menemani ke kota Jakarta. Tak hanya berdua, bahkan kami berempat kesana. Hanya sekedar mencari kesegaran dan ketenangan, begitu kata Ferdi. Dia duduk yang tak jauh dari aku walau terpisah, dengan kedua headset yang terpasang dan pandangan kedua mata yang fokus ke gadget-nya. Satunya lagi, Seto, ada di tempat yang berbeda. Namun bisa terlihat disana. Aku mulai menutup mata, buku yang dipegang mulai kutaruh di kedua pangkal pahaku.
            Gelap semua dengan suara kereta dan keriuhan orang-orang yang berbicara, dan pula juga ada yang diam. Sedikit-sedikit mulai terbawa arus ke alam tidur. Mulai nyenyaklah aku sekarang, memutuskan beristirahat sebentar sebelum suara pemberitahuan stasiun kereta yang berbunyi beberapa menit perjalanan.
            Tadinya, ke sebuah festival Stars Wars begitu membuat aku tenang dengan adanya Action Figure disana. Aku tak tahu, sebelum aku berjalan ke Senayan City dari mall fX berjalan kaki. Aku merasa ini langkah yang begitu dekat. Walau pulang-pulangnya hujan-hujanan untuk kembali ke jalan raya mencari bis dan ke Sudirman stasiun untuk pulang.
            Aku lupa tidak membeli kopi di Starbucks hanya sekedar mencicipi di dalam kereta. Bibirku dan juga tenggorakan sepertinya mau kering. Dan juga versi sembari membaca buku RUMAH BAMBU yang beberapa minggu lalu kubeli. Ketika di rumah, mungkin terasa tenang jika kedua orang tuaku dan adik-adikku pada pergi. Kopi dari Starbukcks, buku RUMAH BAMBU, atau tidak menayangkan serial TV untuk sekedar iseng-iseng. Atau ditambah, kartun yang selalu kutonton di sebuah TV kabel langganan yang pernah aku gunakan, Cartoon Network.
            Sekarang, hari yang kurasakan masih dirasakan. Handphone sudah tidak punya. Sudah satu bulan ini semenjak bulan November handphone rusak karena terkena air hujan waktu pulang sekolah. Mungkin memang bodoh. Aku mengutuki diriku itu. “Handphone makanya dijaga, enak, kan gak punya handphone.” Ucap Ayahku, ketika kuberitahukan info ini ketika ia sedang menikmati baca surat kabar Media Indonesia yang dibacanya.
            “Mau bagaimana lagi, Yah. Namanya juga kebawa suasana.” Balasku.
            “Semestinya, kamu kalau ada akal, handphone kamu taro di plastik, biarin tas kamu basah sama buku pelajaran kamu, yang penting komunikasi itu.”
            Sudah dua tahun kupegang handphone Android mini Samsung yang biasa kupakai hanya sekedar internet atau membuka media social yang aku buka otomatis tidak Log in-berapa menit-log out. 2013-2015. Sudah pastinya ini masa berakhirnya. Tak ada musik yang selalu aku dengarkan dari band Good Charlotte, Maroon 5, atau grup band lama seperti The Beatlles. Tak ada juga media social untuk sekedar menyapa teman-teman lama lewat mention Twitter, atau Instagram melihat kreativitas foto-foto yang dipajang disana.
            “Woy, bangun. Woy…” Tepukan pundak di pahaku membuat aku terbangun dengan mata yang memerah. Ganggu aja orang lagi tidur, gerutuku. Kulayangkan pandangan ke seorang laki-laki dengan memakai snapback dengan tatapan menatapku. Kubangunkan tubuhku dan tidak menjawab dari orang itu, seorang Ibu-ibu mulai duduk di tempat sebelah temanku yang tenang sekali tidur. “Heran, kenapa gak dia aja, sih.” Gerutuku lagi, buku RUMAH BAMBU mulai kupegang. Berdiri, dan memegang bundaran kecil menggantung untuk melindungi diri dari kereta yang berhenti mendadak, atau berjalan pelan walau tubuh bergoyang ingin jatuh.
            Sejenak, aku pindah ke lorong kecil yang berjalan kalau mau pindah ke bagian lain untuk mencari tempat duduk kalau sedang kosong. Aku tepat berdiri di dalam lorong kecil dengan didepan temanku yang mendengarkan lagu lewat headset. Didalam lorong ini, sungguh goyang-goyang selama kereta berjalan. Ketika sedikit loncat, aku terbawa, bergoyang pun sama. Lama-lama, buku RUMAH BAMBU kutaruh didalam tas. Kuletakkan tas itu didepan dengan kedua tali tas yang menggantel masih di kedua bahuku. Salah satunya untuk mencari keamanan, hanya tas digantel dengan bagian belakang berpindah kedepan.
            Aku hanya terdiam sekarang. Berdiri. Menunggu pemberitahuan akan sampai ditempat tujuan. Tak sampai beberapa aku terdiam, kucoba menoleh ke arah kanan sesaat. Tatapan kulihat itu menoleh ke arah kanan lagi, dan kucoba pandangi seorang perempuan itu. Sosok yang kukenal. Dengan menampakkan wajahnya sedikit, aku betul-betul mengenai perempuan itu. Perempuan yang dahulu sama-sama berteman di masa SMA. Tiga tahun lamanya, dan sekarang pun mulai agak renggang, bahkan dari satu sama lain seperti orang asing.
            Memang, tak tahu kenapa aku bisa punya perasaan terhadapnya. Gak tahu kenapa ini semua bisa aku rasakan. Terakhir, aku begitu mengungkapkannya. Lalu sejenak, dia menjilati perkataannya sendiri dengan berhubungan oleh laki-laki lain. Terlebih dari temanku sendiri. Aku begitu tak menyangka bisa bertemunya, perasaan ini masih kupendam untuknya. Sesaat suara hati berbicara, “Sapa dia, Aflaha. Sapa.” Namun entah kenapa ini begitu kaku untuk sekedar bilang, “Hai, Win” atau, “Hai, ngapain lo disini.”
            Sekarang, sudah tidak seperti itu lagi. Dulu aku dan dia, sama-sama saling menyapa. Bahkan sekarang, aku dan dia sama-sama jauh. Tak ada percakapan yang lebih seru lagi. Karena ada dia, seorang laki-laki yang baru yang membuatnya terbawa suasana dalam topik pembicaraan. Bahkan aku memarahi diriku sendiri. Tangan Ferdi mengaba untuk aku duduk di sebelahnya yang kosong, aku menolaknya. Karena apa, karena ada dia. Walau jaraknya agak sedikit dekat, dan tidak kusangka juga dia duduk dengan papasan dengan kursi yang aku duduki tadi selama perjalanan berlangsung. I meet you again, I’m need a conversation about everything, and he’s changed.
            Dia memang telah berubah, dan aku sekarang hanya berdiam diri lagi, menatapnya, seolah-olah aku mengetahui dulu yang sama-sama saling bicara. Sekarang sudah tidak. Dari tatapannya saja, sudah terbaca. Cuek, dan seperti tidak mengenaliku lagi. “Kamu bahkan gak tahu bahwa aku masih menyimpan ini semua,” batinku. Harapanku sekarang hanya bisa kupendam. Kuingin bicara lagi, dan kuingin mengatakan semuanya. Aku merasa, ini sudah percuma.
            Masih sering bertemu di sekolah, tak ada menyapa lagi. Bahkan satu kantin saat dimulainya UAS di bulan Desember. Aku hanya membeli makanan bersama temanku sembari berbicara sedikit-sedikit. Lalu tatapan ke arahnya. Yang makan berhadapan dengan seorang itu. Temanku sendiri.
            Yeah, I know but this my heart, not lie. Not lie. I want to said love for you. Actually… this never time for me. Sesaat aku sudah tidak bisa menyapa dia lagi, bahkan satu kereta denganku saja rasanya tidak bisa dengan wajahnya yang begitu sudah kubaca. Batinku tetap berteriak. Namun aku membiarkannya saja. Aku hanya bisa tersenyum disana, melihatnya yang diam terduduk dengan kepalanya yang mengarah ke arah tempat duduk Ferdi yang masih kalut dengan headset yang terpasang.
            Laki-laki itu, yang tadi membangunkanku, berbicara kepada teman lelakinya dengan topik yang sangat apik. Hanya dia saja, yang terdiam, sesekali memandang handphone-nya. Bahkan baju yang biasa dia pakai masih di pegang olehnya. Waktu jalan denganku, dan pakaian yang itu dan tidak tahu apa itu namanya. Baju yang mungkin seperti jas, lalu di samping kedua tangannya, terbelah-belah berwarna biru gelap.
            Kereta tak lama kemudian sampai di tempat arah tujuanku, Bojong Gede. Aku segera turun dan kepala menoleh ke arah belakang melihatnya yang masih angkuh dari wajahnya. Kuhembuskan napasku dan menapaki kakiku di stasiun ini. Bersama Seto dan disusul temanku yang lain. Kereta sejenak menutup pintunya dengan otomatis, dan berjalan lagi dan aku tidak tahu dia akan turun di stasiun mana. Cilebut? Atau Bogor? Bojong Gede habis hujan tadi, becekkan air terlihat dimana-mana. Dan dua petugas yang memegang peluit yang dibunyikan saat kereta lewat untuk mengantarkan calon penumpang ke Jakarta Kota. “Fer, gue ketemu dia tadi.” Aku mulai menjelaskan, bahkan dia sedikit tidak tahu. “Siapa?”
            “Orang yang pernah gue ceritain ke elu.” Kataku, berjalan ke arah loket untuk menukarkan kartu ini menjadi uang sepuluh ribu.
            “Oh… dia. Emang dia ada disana?” tanyanya. Kami berempat keluar dari stasiun Bojong Gede dengan membawa uang sepuluh ribu yang barusan ditukar.
            “Ya, tempatnya gak jauh dari gue.”
            “Gue tadi liat, kok. Tatapannya kayak gimana gitu. Jadi itu orangnya, toh.” Ucap Seno menyusul.
            Motor yang diparkir khusus untuk penumpang yang tidak mau cape, dikeluarkannya motor Ferdi yang kutumpangi tadi semenjak berangkat dari rumahnya menuju ke stasiun kereta. Membayarnya ke penjaga parkir tersebut, lalu mengendarai motornya menuju arah pulang. Aku masih memikirkannya tadi, yang secara jelas-jelas masih dalam ingatan. Bertemu dengannya, dan tidak menyapanya karena aku yang begitu kaku.
            Dan hari senin mempersiapkan kondisi tubuhku untuk mengambil rapot semester pertama yang berakhir di bulan Desember. Sejenak, motor meninggalkan stasiun ini, dengan bekas dia yang masih didalam kereta yang meninggalkan di stasiun Bojong Gede. “I’m hoping now, maybe not. But, I find you in train. I don’t know you’re go. I want said sorry for you. But how? This not easy, I broke relationship friend because me. Because my heart.” Dan… Aku meninggalkan stasiun itu dengan memikirkannya.


                                                            END