Jari-jariku
Bagiku, jari tak
bisa saja untuk makan, menggaruk, bahkan mencakar-cakar sampai kukunya patah.
Bagiku, jari-jari di seluruh tanganku. Membuatku bisa memegang dagu wajahmu
ketika kamu lesu. Aku selalu memegang dagumu dengan jari-jariku, sampai-sampai
kau menoleh dan menatap kepadaku. Yang pasti, kau selalu bilang, “Apa? Kenapa?
Uh…” dan raut wajahmu terlihat pasrah, kau tahu, aku selalu menemanimu. Apapun
itu.
Aku selalu
menggunakan jari-jariku dengan baik, memegang tanganmu, mencubit gemes di
lenganmu, dan juga pipimu. Bahkan, jari-jariku terkadang di balas olehmu
seperti perang. Saat jari-jari kita terikat saat kau dan aku berperang jari,
karena aku suka mencubit gemas. Kau tak bisa melepaskannya, bahkan jari-jari
kita sudah mengikat. Apa aku benar-benar tak bisa melepasmu? Sungguh, dalam
hatiku. Iya, aku tak bisa melepasmu. Karena jari-jari kita terikat, sulit untuk
di lepaskan. Perlahan, dan perlahan. Akhirnya, jari-jari kita bisa kita
lepaskan.
Jari-jariku
merasakan seperti sakit, apakah kita terlalu kasar tadi melepasnya? Aku rasa,
aku merasakannya, apakah kamu juga? Kurasa kamu lebih menutup dirimu, sehingga
kamu dari raut wajahmu kamu tidak terlihat kesakitan. Jari-jari ku bergerak
dengan sendirinya, tak bisa diam sama sekali. Tapi aku kontrolkan, ternyata
perlahan bisa. Bagiku, jari-jari yang ada di tangan ini, seperti layaknya kita
memelihara binatang. Tak bisa bermain dengan sembarang, mencuri barang, pasti
jari-jari kita terlipat dan memegangi barang yang kita curi itu.
Jari-jari ini,
bisa kita pergunakan dan bisa kita pelihara dengan yang baik. Walau ini hasil
dari yang maha kuasa, sang maha kuasa itu menitipkan tangan dan juga jari-jari
untuk mempergunakan sesuatu. Salah satu kupergunakan sesuatu, adalah memegang
dagumu dan menatap ke wajahku, mencubit gemes di lengan dan di pipi, sehingga
kalau kamu kesal. Kau membalas dengan jari-jarimu, disitulah kita berperang
dengan jari-jari.
Tak juga itu,
aku selalu menghapus ketika kamu menangis, dengan jempolku. Saat kau menurunkan
air mata, aku selalu menghapus air matamu. Saat kamu mengeluarkan air matamu,
aku selalu bilang. “Kamu kenapa, kalau ada apa-apa. Ada aku disini.” Kau
menurunkan kepalamu di pundakku. Aku juga selalu bermain jari-jariku untuk
mengelus rambutmu yang panjang ketika kau menundukkan kepalamu di pundakku. Ketika
kau mencariku, dimana pun aku berada, aku selalu siap dengan jari-jariku untuk
menghapus air matamu, mengelus rambutmu, mencubit gemes di lengan dan di pipi,
juga memegang dagumu. Sehingga kamu mengetahui, bahwa aku ada untukmu,
disampingmu, sampai selamanya.

Bagiku jari-jariku mampu menuliskan berbagai macam karya :)
ReplyDeleteBoleh juga :)
ReplyDelete