Ketika ku
mendengar suaramu
oleh: Aflaha Rizal
Suaramu begitu indah yang
dilontarkan, cara bicaramu, suara bercanda mu, bahkan suara tertawa mu. Aku
jatuh hati kepadamu, saat awal perkenalan kita di bangku kuliah. Begitu kau
yang aku menyangka kamu lelaki yang gak baik, kurang ajar. Tapi aku salah
menduga, kau begitu baik kepadaku. Bahkan kau juga membantuku dalam hal
tugas-tugas kuliahku.
Saat kita berdua makan di restoran di siang
hari, menemanimu karena kelelahan, aku melihat raut wajahmu yang begitu lelah. Tapi,
dalam hatiku berkata. “Walaupun kamu lelah, tapi kamu harus makan.” Ketika kau
bertemu dengan minuman Jus Jeruk, kau langsung menyedotnya. Menghilangkan
dahaga di tenggorokan walaupun makanan yang di pesan belum kunjung datang
karena pengungjung ramai sekali di restoran itu. Aku tersentak kaget saat kau
memegang tanganku, wajahku berubah merah, kau pun begitu tersenyum melihatku
yang seakan-akan aku gugup dan ketakutan seperti melihat hantu.
“Kamu kenapa? Gugup
gitu?” tanyamu, aku salah tingkah untuk menjawabnya.
“Ga-ga-gak apa-apa,
kok.”
“Makasih, ya. Udah
nemenin aku makan disini.” Katamu saat itu, bahkan kau pun memegang kedua
tanganku.
Aku berusaha tersenyum kepadamu, supaya aku
tidak terlalu gugup berlebihan di depanmu. “Iya, sama-sama.” Saat pesanan
datang, pesanan yang kau pesan berupa Bistik Sapi dan aku Sayur Asam
kesukaanku. Kita menikmati saat itu bersama-sama, kau begitu lahap memakan
Bistik Sapi itu. Apakah kau benar-benar lapar? Aku menikmati demi menikmati
Sayur Asam ini, aku benar-benar rindu dengan makanan ini.
“Minuman kamu belum
dateng ya?” tanyamu.
“Belum, lama nih.” Jawabku
lesu.
Beberapa
menit saat aku menunggu minuman yang kupesan, Teh Lemon. Akhirnya pun datang
juga, aku segera memberikan terima kasih dan senyuman kepada pelayan restoran
itu. Cepat-cepat, aku menyedotnya. Tapi saat kau melihat aku sedang menyedot
Teh Lemon, kau begitu menyuruhku untuk berhenti menyedotnya. “Tunggu! Ada
sesuatu di dalam minuman yang kamu sedot.” Katamu, sambil menghentikan.
“Ada apa?” alisku
menaik keduanya.
“Sini, sebentar.” Kau
menarik gelas yang berisi Teh Lemonnya, mengambil sesuatu yang aku kenal. Itu
cincin.
“Ini buat kamu, aku sengaja memasukkan cincin
ini ke minuman kamu.” Kau langsung menarik tanganku yang di bagian kanan, kau
memasang cincin itu di jariku. Saat cincin sudah terpasang, kau menatapku lama.
“Aku cinta sama kamu, my heart.” Katamu, apakah aku salah mendengarnya?
Ternyata tidak, aku benar-benar mendengar jelas kata-katamu. “Aku juga.” Kau begitu
mencium tanganku, dan memegang erat tanganku yang seakan-akan aku tak boleh
pergi kemana-mana. Ku terus tatap matanya, dan tersenyum di bibirku. Siang itu,
aku merasakan getaran yang saat itu aku merasakan rasa yang sama terhadapnya.

wah! Thanks for read ya :)
ReplyDelete