Powered By Blogger

Saturday, 13 December 2014



                   Ketika ku mendengar suaramu

oleh: Aflaha Rizal

Suaramu begitu indah yang dilontarkan, cara bicaramu, suara bercanda mu, bahkan suara tertawa mu. Aku jatuh hati kepadamu, saat awal perkenalan kita di bangku kuliah. Begitu kau yang aku menyangka kamu lelaki yang gak baik, kurang ajar. Tapi aku salah menduga, kau begitu baik kepadaku. Bahkan kau juga membantuku dalam hal tugas-tugas kuliahku.

  Saat kita berdua makan di restoran di siang hari, menemanimu karena kelelahan, aku melihat raut wajahmu yang begitu lelah. Tapi, dalam hatiku berkata. “Walaupun kamu lelah, tapi kamu harus makan.” Ketika kau bertemu dengan minuman Jus Jeruk, kau langsung menyedotnya. Menghilangkan dahaga di tenggorokan walaupun makanan yang di pesan belum kunjung datang karena pengungjung ramai sekali di restoran itu. Aku tersentak kaget saat kau memegang tanganku, wajahku berubah merah, kau pun begitu tersenyum melihatku yang seakan-akan aku gugup dan ketakutan seperti melihat hantu.

                                                “Kamu kenapa? Gugup gitu?” tanyamu, aku salah tingkah untuk menjawabnya.
                                                “Ga-ga-gak apa-apa, kok.”
                                                “Makasih, ya. Udah nemenin aku makan disini.” Katamu saat itu, bahkan kau pun memegang kedua tanganku.

  Aku berusaha tersenyum kepadamu, supaya aku tidak terlalu gugup berlebihan di depanmu. “Iya, sama-sama.” Saat pesanan datang, pesanan yang kau pesan berupa Bistik Sapi dan aku Sayur Asam kesukaanku. Kita menikmati saat itu bersama-sama, kau begitu lahap memakan Bistik Sapi itu. Apakah kau benar-benar lapar? Aku menikmati demi menikmati Sayur Asam ini, aku benar-benar rindu dengan makanan ini.

                                                “Minuman kamu belum dateng ya?” tanyamu.
                                                “Belum, lama nih.” Jawabku lesu.

    Beberapa menit saat aku menunggu minuman yang kupesan, Teh Lemon. Akhirnya pun datang juga, aku segera memberikan terima kasih dan senyuman kepada pelayan restoran itu. Cepat-cepat, aku menyedotnya. Tapi saat kau melihat aku sedang menyedot Teh Lemon, kau begitu menyuruhku untuk berhenti menyedotnya. “Tunggu! Ada sesuatu di dalam minuman yang kamu sedot.” Katamu, sambil menghentikan.

                                                “Ada apa?” alisku menaik keduanya.
                                                “Sini, sebentar.” Kau menarik gelas yang berisi Teh Lemonnya, mengambil sesuatu yang aku kenal. Itu cincin.

  “Ini buat kamu, aku sengaja memasukkan cincin ini ke minuman kamu.” Kau langsung menarik tanganku yang di bagian kanan, kau memasang cincin itu di jariku. Saat cincin sudah terpasang, kau menatapku lama. “Aku cinta sama kamu, my heart.” Katamu, apakah aku salah mendengarnya? Ternyata tidak, aku benar-benar mendengar jelas kata-katamu. “Aku juga.” Kau begitu mencium tanganku, dan memegang erat tanganku yang seakan-akan aku tak boleh pergi kemana-mana. Ku terus tatap matanya, dan tersenyum di bibirku. Siang itu, aku merasakan getaran yang saat itu aku merasakan rasa yang sama terhadapnya.

1 comment: