Powered By Blogger

Tuesday, 16 December 2014



                                      Jari-jariku

Bagiku, jari tak bisa saja untuk makan, menggaruk, bahkan mencakar-cakar sampai kukunya patah. Bagiku, jari-jari di seluruh tanganku. Membuatku bisa memegang dagu wajahmu ketika kamu lesu. Aku selalu memegang dagumu dengan jari-jariku, sampai-sampai kau menoleh dan menatap kepadaku. Yang pasti, kau selalu bilang, “Apa? Kenapa? Uh…” dan raut wajahmu terlihat pasrah, kau tahu, aku selalu menemanimu. Apapun itu.
Aku selalu menggunakan jari-jariku dengan baik, memegang tanganmu, mencubit gemes di lenganmu, dan juga pipimu. Bahkan, jari-jariku terkadang di balas olehmu seperti perang. Saat jari-jari kita terikat saat kau dan aku berperang jari, karena aku suka mencubit gemas. Kau tak bisa melepaskannya, bahkan jari-jari kita sudah mengikat. Apa aku benar-benar tak bisa melepasmu? Sungguh, dalam hatiku. Iya, aku tak bisa melepasmu. Karena jari-jari kita terikat, sulit untuk di lepaskan. Perlahan, dan perlahan. Akhirnya, jari-jari kita bisa kita lepaskan.
Jari-jariku merasakan seperti sakit, apakah kita terlalu kasar tadi melepasnya? Aku rasa, aku merasakannya, apakah kamu juga? Kurasa kamu lebih menutup dirimu, sehingga kamu dari raut wajahmu kamu tidak terlihat kesakitan. Jari-jari ku bergerak dengan sendirinya, tak bisa diam sama sekali. Tapi aku kontrolkan, ternyata perlahan bisa. Bagiku, jari-jari yang ada di tangan ini, seperti layaknya kita memelihara binatang. Tak bisa bermain dengan sembarang, mencuri barang, pasti jari-jari kita terlipat dan memegangi barang yang kita curi itu.
Jari-jari ini, bisa kita pergunakan dan bisa kita pelihara dengan yang baik. Walau ini hasil dari yang maha kuasa, sang maha kuasa itu menitipkan tangan dan juga jari-jari untuk mempergunakan sesuatu. Salah satu kupergunakan sesuatu, adalah memegang dagumu dan menatap ke wajahku, mencubit gemes di lengan dan di pipi, sehingga kalau kamu kesal. Kau membalas dengan jari-jarimu, disitulah kita berperang dengan jari-jari.
Tak juga itu, aku selalu menghapus ketika kamu menangis, dengan jempolku. Saat kau menurunkan air mata, aku selalu menghapus air matamu. Saat kamu mengeluarkan air matamu, aku selalu bilang. “Kamu kenapa, kalau ada apa-apa. Ada aku disini.” Kau menurunkan kepalamu di pundakku. Aku juga selalu bermain jari-jariku untuk mengelus rambutmu yang panjang ketika kau menundukkan kepalamu di pundakku. Ketika kau mencariku, dimana pun aku berada, aku selalu siap dengan jari-jariku untuk menghapus air matamu, mengelus rambutmu, mencubit gemes di lengan dan di pipi, juga memegang dagumu. Sehingga kamu mengetahui, bahwa aku ada untukmu, disampingmu, sampai selamanya.

2 comments: