Powered By Blogger

Monday, 20 June 2016

Kolam ItuPunya Cinta


Foto: Aflaha Rizal
Puisi: Aflaha Rizal




Butiran terlempar beberapa bagian dari kantong plastik putih. Taburan-taburan
kecil-kecil dilempar pada kolam yang penuh sesak pada ikan-ikan memburu angkasa
cemerlang berjatuhan. Kesukaan mereka. Hidup dan nafas mereka, seperti cinta tak
hanya dimiliki manusia semata. Lintasan perahu kayu didayung membawa penumpang menjalani
putaran kolam yang amat lebar dan penuh ikan-ikan berhinggap disana.

Kolam itu tak pernah sedikit dan tak pernah pudar akan cintanya pada sesama binatang.
Sesuatu tersembunyi tersimpan disana dan dikunci hingga kita tak pernah tahu isi didalamnya. Pada kolam jernih dan dingin, menembus kulit salah satu kuncinya kenyamanan ikan-ikan tersimpan sana. Lebih baik meratapi bersama kolam menaburkan beberapa butiran makanan yang penuh makna hingga membuat ikan itu sehat.

Kolam dan cinta, kepunyaan bentuk itu sendiri, hingga suatu waktu memutar kembali dan kembali menjadi pagi mereka takkan pernah tidur. Rumah mereka dan kawan-kawan bersatu tanpa terambil dengan jahil memindahkan satu insan ikan ke tempat lain.


Senyuman pandangan mereka kian senang menaburkan makanan pada tangan-tangan melayang, mata berbinar-binar dimiliki sang manusia kecil bentuk keberhasilan mengundang cinta itu datang pada sosoknya. Bahkan ribuan cinta yang datang. 

Friday, 10 June 2016

Aku Mendengar Suara Pembicaraan Orang

Kereta berjalan dalam satu waktu, roda yang berbunyi melintasi
rel besi panas. Di dalam yang mempunyai keramaian manusia yang berbeda-
beda. Sosial yang berbeda, butiran senyuman-senyuman anak kecil yang terungkap.
Kukaitkan tangan ini pada gantungan dalam kereta.
Tak sengaja dan tak sengaja, aku begitu sendiri.
Tujuan yang entah membawaku kemana, tak ada paku untuk menancap
kemana tujuanku.
Kereta membawa, aku sendiri. Tanpa tujuan, tanpa arah
mengikuti kereta entah kemana. Melekatnya jiwanya nama sosok,
melekatnya jiwa sesuatu yang terpendam, hanya bisa diam.
Ketika tak ada yang menghibur dalam setiap wajah manusia,
mereka semua memilih kepentingannya masing-masing.

Aku begitu sendiri.


“Sekarang, lebih banyak buku di jual online. Toko buku itu mulai bangkrut.”
Kata seorang itu. Di belakang, mendengar dari telinga, berdiri tegap berpegangan
pada kaitan dalam kereta. Dua orang berbadan tambun, membicarakan buku. Seorang
pembaca, maupun seorang penulis. Telinga ini terus mendengar, pembicaraan yang
sedikit membuatku tertarik. Tanpa mengetahui, lalu seperti bukan sosok siapa-siapa.
Tujuan, yang datang padaku. Aku mulai bergegas mencari buku.

Friday, 22 April 2016

Buku Cuaca Sama



Buku: Cuaca Sama
Penerbit: Nulisbuku.com
 Bulan/Tahun Rilis: April 2016
Kategori: Kumpulan Cerpen



Sudah lama tidak mengunjungi blog, bahkan ngisi sesuatu. Udah berapa bulan, ya? Ya, gue lagi disibukkan yang sungguh menguras tenaga. Apalagi ngunjungin blog saja jarang, atau nulis buat di publish di blog gue sendiri. Sebagai hadirnya gue, gue juga disibukkan juga sama menulis buat buku. Buku yang sudah terbit meski lewat jalur indie. Tapi gue yakin, semoga karya gue bisa dibaca, atau dinikmati setiap alur cerita yang gue buat selama tiga minggu gue menulis di bulan Desember. Itu juga gak pernah ada pikiran buat nerbitin indie. Yang dijualnya kadang terbatas.
            Sebagai pembukanya, gue mau melakukan rangkaian dalam isi buku yang gue tulis. Judul yang gue beri tanpa memikirkan terlebih dahulu, tiba-tiba melesat aja kayak tikus kalau gue mau nangkep. Atau larer yang pengen gue tepuk malah kabur duluan. Judulnya Cuaca Sama. Memang bukan novel atau biografi. Tapi disini gue membuat rangkaian kumpulan cerpen yang benar-benar nyambung sama judul yang diatas.
            Gue memang ingin membuatnya beda, walaupun memang udah banyak rangkaian cerita alur-alur kayak cinta romantis, kengenesan hidup yang ditulis, bahkan cuaca hujan. Nah, itu, buku gue itu menyangkut sama cuaca hujan. Dan gue buat plot-nya yang beda. Hujan bukan sesuatu yang suka menganggu, atau berakibat banjir. Tapi gue membuatnya ada di balik hujan itu sendiri. Banyak yang bakalan gue kasih satu yang gue ambil di dalam buku gue. Yang pasti, gue mau membuatnya itu sebagai tindakan istimewa bagi sastra Indonesia yang pasti, sama dunia perbukuan. Di buku Cuaca Sama itu, kalian akan diajak sama karakter-karakter lain dalam satu cerita yang mereka punya bersama hujan. Entah itu sebagai adanya keterikatan persahabatan, kenangan, bahkan mencari uang yang belum pernah diketahui oleh siapapun. Bekerja sebagai jasa payung yang didominasi oleh anak-anak kecil yang selalu basah kuyup di luar menunggu pelanggan yang mau memakai jasanya.
            Mungkin di dalam buku ada yang menyangkut juga percintaan, tapi yang gue sampaikan, meski sudah banyak cerita yang menyangkut dunia percintaan, kengenesan hidup, atau kenangan berupa apalah. Selagi itu tetap itu-itu saja yang gak jauh, jika dibuat plot yang berbeda dan sudut pandangan yang berbeda, yang pasti tidak akan terlihat ‘sudah sering cerita yang kayak gini’. Tapi plot dan alur yang dibuat beda, itu yang akan menjadi sebuah cerita istimewa.
            Dari sampul buku yang diambil, itu salah satu rangkaian ide dari Bokap gue untuk dibuatkan oleh seorang Desainer Sampul. Gue hanya mengikutinya, tinggal cocokin apa itu pantas sampul sama isi dalam ceritanya. Ketika udah jadi, gue menganggap itu cocok sama alur dalam cerita yang gue buat. Tapi, dari penilaian mereka, gue siap apa yang mereka sampaikan supaya gue bisa membuatnya lebih baik lagi. Makanya itu, gue berharap ada sebuah kritik sama saran dari kalian, jika kalian ada yang membeli buku gue dan membacanya. Entah itu salah ketikan, atau karakter yang terkadang campuran sifat-sifatnya, penilaian kalian dan saran kalian yang gue mau. Segitu saja, deh. Jika kalian mau order, bisa cek di link website ini: www.nulisbuku.com
           
            Atau bisa juga lewat e-mail untuk bertanya-tanya kalau mau order: admin@nulisbuku.com.

Enjoyed J

Aflaha Rizal

Monday, 28 December 2015

Kelu Saat Menayapa

December, 20, 2015
Orang-orang begitu ramai di dalam kereta ini, kereta yang akan menuju ke arah Bogor. Bojong Gede tempat aku akan turun disana. Aku bisa lega sekarang, bisa duduk di kursi yang empuk sehabis berjalan seharian di kota Jakarta. Hingga sore ini. Buku RUMAH BAMBU yang sejak tadi kubaca, kupegang sesaat waktu tubuhku merasa rileks untuk duduk sembari membaca. Buku kumpulan cerpen yang memasuki cetakan ke-enam di tahun 2012 cukup membuang mood ku yang bosan. Dan ini kudapatkan di sebuah obral buku yang murah.
            Bab mulai dibuka dengan judul ‘Colt’, dan di pertengahan mulai kantuk menyapa. Kupaksa untuk membaca, tak bisa. Disamping, temanku yang semenjak tadi, menemani ke kota Jakarta. Tak hanya berdua, bahkan kami berempat kesana. Hanya sekedar mencari kesegaran dan ketenangan, begitu kata Ferdi. Dia duduk yang tak jauh dari aku walau terpisah, dengan kedua headset yang terpasang dan pandangan kedua mata yang fokus ke gadget-nya. Satunya lagi, Seto, ada di tempat yang berbeda. Namun bisa terlihat disana. Aku mulai menutup mata, buku yang dipegang mulai kutaruh di kedua pangkal pahaku.
            Gelap semua dengan suara kereta dan keriuhan orang-orang yang berbicara, dan pula juga ada yang diam. Sedikit-sedikit mulai terbawa arus ke alam tidur. Mulai nyenyaklah aku sekarang, memutuskan beristirahat sebentar sebelum suara pemberitahuan stasiun kereta yang berbunyi beberapa menit perjalanan.
            Tadinya, ke sebuah festival Stars Wars begitu membuat aku tenang dengan adanya Action Figure disana. Aku tak tahu, sebelum aku berjalan ke Senayan City dari mall fX berjalan kaki. Aku merasa ini langkah yang begitu dekat. Walau pulang-pulangnya hujan-hujanan untuk kembali ke jalan raya mencari bis dan ke Sudirman stasiun untuk pulang.
            Aku lupa tidak membeli kopi di Starbucks hanya sekedar mencicipi di dalam kereta. Bibirku dan juga tenggorakan sepertinya mau kering. Dan juga versi sembari membaca buku RUMAH BAMBU yang beberapa minggu lalu kubeli. Ketika di rumah, mungkin terasa tenang jika kedua orang tuaku dan adik-adikku pada pergi. Kopi dari Starbukcks, buku RUMAH BAMBU, atau tidak menayangkan serial TV untuk sekedar iseng-iseng. Atau ditambah, kartun yang selalu kutonton di sebuah TV kabel langganan yang pernah aku gunakan, Cartoon Network.
            Sekarang, hari yang kurasakan masih dirasakan. Handphone sudah tidak punya. Sudah satu bulan ini semenjak bulan November handphone rusak karena terkena air hujan waktu pulang sekolah. Mungkin memang bodoh. Aku mengutuki diriku itu. “Handphone makanya dijaga, enak, kan gak punya handphone.” Ucap Ayahku, ketika kuberitahukan info ini ketika ia sedang menikmati baca surat kabar Media Indonesia yang dibacanya.
            “Mau bagaimana lagi, Yah. Namanya juga kebawa suasana.” Balasku.
            “Semestinya, kamu kalau ada akal, handphone kamu taro di plastik, biarin tas kamu basah sama buku pelajaran kamu, yang penting komunikasi itu.”
            Sudah dua tahun kupegang handphone Android mini Samsung yang biasa kupakai hanya sekedar internet atau membuka media social yang aku buka otomatis tidak Log in-berapa menit-log out. 2013-2015. Sudah pastinya ini masa berakhirnya. Tak ada musik yang selalu aku dengarkan dari band Good Charlotte, Maroon 5, atau grup band lama seperti The Beatlles. Tak ada juga media social untuk sekedar menyapa teman-teman lama lewat mention Twitter, atau Instagram melihat kreativitas foto-foto yang dipajang disana.
            “Woy, bangun. Woy…” Tepukan pundak di pahaku membuat aku terbangun dengan mata yang memerah. Ganggu aja orang lagi tidur, gerutuku. Kulayangkan pandangan ke seorang laki-laki dengan memakai snapback dengan tatapan menatapku. Kubangunkan tubuhku dan tidak menjawab dari orang itu, seorang Ibu-ibu mulai duduk di tempat sebelah temanku yang tenang sekali tidur. “Heran, kenapa gak dia aja, sih.” Gerutuku lagi, buku RUMAH BAMBU mulai kupegang. Berdiri, dan memegang bundaran kecil menggantung untuk melindungi diri dari kereta yang berhenti mendadak, atau berjalan pelan walau tubuh bergoyang ingin jatuh.
            Sejenak, aku pindah ke lorong kecil yang berjalan kalau mau pindah ke bagian lain untuk mencari tempat duduk kalau sedang kosong. Aku tepat berdiri di dalam lorong kecil dengan didepan temanku yang mendengarkan lagu lewat headset. Didalam lorong ini, sungguh goyang-goyang selama kereta berjalan. Ketika sedikit loncat, aku terbawa, bergoyang pun sama. Lama-lama, buku RUMAH BAMBU kutaruh didalam tas. Kuletakkan tas itu didepan dengan kedua tali tas yang menggantel masih di kedua bahuku. Salah satunya untuk mencari keamanan, hanya tas digantel dengan bagian belakang berpindah kedepan.
            Aku hanya terdiam sekarang. Berdiri. Menunggu pemberitahuan akan sampai ditempat tujuan. Tak sampai beberapa aku terdiam, kucoba menoleh ke arah kanan sesaat. Tatapan kulihat itu menoleh ke arah kanan lagi, dan kucoba pandangi seorang perempuan itu. Sosok yang kukenal. Dengan menampakkan wajahnya sedikit, aku betul-betul mengenai perempuan itu. Perempuan yang dahulu sama-sama berteman di masa SMA. Tiga tahun lamanya, dan sekarang pun mulai agak renggang, bahkan dari satu sama lain seperti orang asing.
            Memang, tak tahu kenapa aku bisa punya perasaan terhadapnya. Gak tahu kenapa ini semua bisa aku rasakan. Terakhir, aku begitu mengungkapkannya. Lalu sejenak, dia menjilati perkataannya sendiri dengan berhubungan oleh laki-laki lain. Terlebih dari temanku sendiri. Aku begitu tak menyangka bisa bertemunya, perasaan ini masih kupendam untuknya. Sesaat suara hati berbicara, “Sapa dia, Aflaha. Sapa.” Namun entah kenapa ini begitu kaku untuk sekedar bilang, “Hai, Win” atau, “Hai, ngapain lo disini.”
            Sekarang, sudah tidak seperti itu lagi. Dulu aku dan dia, sama-sama saling menyapa. Bahkan sekarang, aku dan dia sama-sama jauh. Tak ada percakapan yang lebih seru lagi. Karena ada dia, seorang laki-laki yang baru yang membuatnya terbawa suasana dalam topik pembicaraan. Bahkan aku memarahi diriku sendiri. Tangan Ferdi mengaba untuk aku duduk di sebelahnya yang kosong, aku menolaknya. Karena apa, karena ada dia. Walau jaraknya agak sedikit dekat, dan tidak kusangka juga dia duduk dengan papasan dengan kursi yang aku duduki tadi selama perjalanan berlangsung. I meet you again, I’m need a conversation about everything, and he’s changed.
            Dia memang telah berubah, dan aku sekarang hanya berdiam diri lagi, menatapnya, seolah-olah aku mengetahui dulu yang sama-sama saling bicara. Sekarang sudah tidak. Dari tatapannya saja, sudah terbaca. Cuek, dan seperti tidak mengenaliku lagi. “Kamu bahkan gak tahu bahwa aku masih menyimpan ini semua,” batinku. Harapanku sekarang hanya bisa kupendam. Kuingin bicara lagi, dan kuingin mengatakan semuanya. Aku merasa, ini sudah percuma.
            Masih sering bertemu di sekolah, tak ada menyapa lagi. Bahkan satu kantin saat dimulainya UAS di bulan Desember. Aku hanya membeli makanan bersama temanku sembari berbicara sedikit-sedikit. Lalu tatapan ke arahnya. Yang makan berhadapan dengan seorang itu. Temanku sendiri.
            Yeah, I know but this my heart, not lie. Not lie. I want to said love for you. Actually… this never time for me. Sesaat aku sudah tidak bisa menyapa dia lagi, bahkan satu kereta denganku saja rasanya tidak bisa dengan wajahnya yang begitu sudah kubaca. Batinku tetap berteriak. Namun aku membiarkannya saja. Aku hanya bisa tersenyum disana, melihatnya yang diam terduduk dengan kepalanya yang mengarah ke arah tempat duduk Ferdi yang masih kalut dengan headset yang terpasang.
            Laki-laki itu, yang tadi membangunkanku, berbicara kepada teman lelakinya dengan topik yang sangat apik. Hanya dia saja, yang terdiam, sesekali memandang handphone-nya. Bahkan baju yang biasa dia pakai masih di pegang olehnya. Waktu jalan denganku, dan pakaian yang itu dan tidak tahu apa itu namanya. Baju yang mungkin seperti jas, lalu di samping kedua tangannya, terbelah-belah berwarna biru gelap.
            Kereta tak lama kemudian sampai di tempat arah tujuanku, Bojong Gede. Aku segera turun dan kepala menoleh ke arah belakang melihatnya yang masih angkuh dari wajahnya. Kuhembuskan napasku dan menapaki kakiku di stasiun ini. Bersama Seto dan disusul temanku yang lain. Kereta sejenak menutup pintunya dengan otomatis, dan berjalan lagi dan aku tidak tahu dia akan turun di stasiun mana. Cilebut? Atau Bogor? Bojong Gede habis hujan tadi, becekkan air terlihat dimana-mana. Dan dua petugas yang memegang peluit yang dibunyikan saat kereta lewat untuk mengantarkan calon penumpang ke Jakarta Kota. “Fer, gue ketemu dia tadi.” Aku mulai menjelaskan, bahkan dia sedikit tidak tahu. “Siapa?”
            “Orang yang pernah gue ceritain ke elu.” Kataku, berjalan ke arah loket untuk menukarkan kartu ini menjadi uang sepuluh ribu.
            “Oh… dia. Emang dia ada disana?” tanyanya. Kami berempat keluar dari stasiun Bojong Gede dengan membawa uang sepuluh ribu yang barusan ditukar.
            “Ya, tempatnya gak jauh dari gue.”
            “Gue tadi liat, kok. Tatapannya kayak gimana gitu. Jadi itu orangnya, toh.” Ucap Seno menyusul.
            Motor yang diparkir khusus untuk penumpang yang tidak mau cape, dikeluarkannya motor Ferdi yang kutumpangi tadi semenjak berangkat dari rumahnya menuju ke stasiun kereta. Membayarnya ke penjaga parkir tersebut, lalu mengendarai motornya menuju arah pulang. Aku masih memikirkannya tadi, yang secara jelas-jelas masih dalam ingatan. Bertemu dengannya, dan tidak menyapanya karena aku yang begitu kaku.
            Dan hari senin mempersiapkan kondisi tubuhku untuk mengambil rapot semester pertama yang berakhir di bulan Desember. Sejenak, motor meninggalkan stasiun ini, dengan bekas dia yang masih didalam kereta yang meninggalkan di stasiun Bojong Gede. “I’m hoping now, maybe not. But, I find you in train. I don’t know you’re go. I want said sorry for you. But how? This not easy, I broke relationship friend because me. Because my heart.” Dan… Aku meninggalkan stasiun itu dengan memikirkannya.


                                                            END

Tuesday, 24 November 2015

Air Mata Air Mata

                                                                
(Spesial Teacher’s Day)

Semua orang  yang hidup di dunia ini, pasti bisa menangis. Yang terkandung bagaimana mereka cara untuk mengeluarkan berbutir-butir air mata. Layaknya, mereka mempunyai air mata yang mereka keluarkan dengan alasan-alasan tertentu. Marah, sakit hati, bahagia, bahkan mengingat tentang sebuah kenangan. Seperti para guru-guru sekolah, yang terkadang menangis karena tingkah kelakukan murid-murid yang seolah-olah tak enak dipandang oleh mata. Lalu, tak jarang kalau ada murid yang berani melawan guru.
            Hidup memang perlu dengan guru, dialah orang yang lebih pengalaman. Maka itulah aku yang selalu hendak mempelajari atau mengambil dibalik pengalaman-pengalaman yang ada diatasku. Titik-titik air mata yang mereka keluarkan, begitu meratapi berbagai macam masalah yang dihadapi oleh guru. Seolah-olah mereka bingung untuk mencari jalan keluar untuk bisa bebas dari zona-zona yang tak nyaman.
            Atau, para murid-murid bisa berbicara dengan empat mata oleh guru bermacam akademik. Tak hanya guru BP yang bisa mengasihkan sebuah solusi, guru akademis pun bisa dengan semuanya. “Jika kelak aku akan menjadi seorang guru, bukan guru dalam berbagai pelajaran, melainkan guru yang menjalani jalannya waktu kehidupan”. Tulisan ini terlintas aku membicarakan itu, “Jika kelak aku akan menjadi seorang guru, bukan guru dalam berbagai pelajaran, melainkan guru yang menjalani jalannya waktu kehidupan.” Kalau boleh dijabarkan, guru yang menjalani kehidupan pun bisa kita bagi kepada yang lain. Masalah kita yang sulit kita hadapi, hikmah-hikmah pelajaran hidup, atau pengalaman-pengalaman macam lainnya. Itu guru.
            Menitihkan air mata dengan hati, tak segampang yang kita rasakan. Hati terkadang hanya berdiam, sulit untuk mengeluarkan air matanya. Bahagia, mungkin bisa dikeluarkan, walau hanya setetes dengan cairan yang sedikit. Marah dan sakit hati, ya itu pasti. Marah dengan siapa, dan sakit hati kepada siapa. Yang apapun berbagai macam tertentu menitihkan air mata. Lalu dengan setiap waktu beberapa butir manusia yang menitihkan air mata. Sering bertanya-tanya, “Apakah air mata itu bisa abis?” tak ada yang memberitahuku.
            Sekarang pun sebagai murid sekolah, kita merayakan hari guru PGRI. Deretan guru-guru akademis, berdiri menunggu murid yang menyalami tangannya, memberikan gift, atau bunga-bunga. Guru favorit, guru yang membuatmu kesal setengah mati, bahkan guru yang selalu datang terlambat ketika mengajar. Mereka memberikan bunga kepada mereka, mengucapkan sepatah kata. Para guru pun menitihkan air matanya, dengan lagu Himne Guru yang melantun oleh grup paduan suara dengan suara yang merdu.

            Murid-murid yang menangis bersama gurunya, berpelukan, dan saling meminta maaf satu sama lain. Tumpukkan bunga-bunga yang diberinya, guru mengeluarkan tawa ketika ia tak mampu membawa bunga-bunga yang diberikan kepadanya oleh murid. Dan saling berfoto untuk mendapatkan sebuah kenangan yang mungkin tak akan terulang kembali. Jika ada mesin waktu pun mungkin tak akan pernah ada jaringan mesin waktu itu. 

Thursday, 29 October 2015

Masihkah Ada Kesempatan Lagi?



Berapa kali aku telah mengirimkannya secerhah tulisan chatting walau aku tak seperti para laki-laki lain yang pintar sekali meluluhkan hati seorang perempuan. Tak seperti diriku, namun aku tahu diri, yang paling penting, aku mengungkapkannya dengan perasaanku yang jujur. Apakah waktu aku mengungkapkannya itu waktu yang belum tepat untukku? Masa-masa sekolahku di SMA ini, aku hanya menikmati beberapa bulan saja untuk menikmati masa-masa sekolah putih abu-abu yang kukenakan sudah hampir lama. Beberapa para rekan-rekan teman pun, yang awalnya dekatan, saling bercanda atau tertawa riang, kini telah sirna dan mulai tak seperti dulu lagi.
            Berlama aku menginjak kaki di sekolah SMA ini selama tiga tahun, tak terasa bahwa aku akan semakin dewasa dengan umurku dan pikiran yang matang. Walau banyak yang bilang aku bukanlah laki-laki dewasa, benarkah itu? Katakan saja padaku. Mungkin, beberapa banyak para murid di SMA yang memiliki yang mereka rasakan masing-masing. Bahagia, sedih, duka, atau bahkan terluka yang masih masuk dalam kategori sedih. Yang paling aku sering lihat adalah kebahagiaan mereka yang mereka miliki. Aku pun sama, bahagia yang mungkin aku rasakan tanpa aku sadari. Seperti hatiku, yang selalu mengatakan, “Dia, dia, dan dia”. Seorang perempuan berambut panjang yang sudah kenal lama denganku, dan sekarang akulah pemilik rasa-rasa itu.
            Kenangan-kenanganku hampir tak terlupakan dengannya, menonton film di bioskop berdua dan menikmati film komedi di malam hari Sabtu. Sekarang, aku bingung dengan apa yang mesti aku lakukan, terutama seorang perempuan.  Lambat laun sekian berapa bulan kemudian, entah darimana itu rasa-rasa yang datang. Ya, seorang laki-laki yang berdatangan dengan rasa tanpa permisi atau mengetuk terlebih dahulu. Suatu waktu aku mencoba untuk mengeluarkan isi yang aku ungkapkan, aku mengatakannya, “Aku suka kamu.” Rasa suka, dan sudah bercampur cinta yang aku miliki. Namun lain halnya, dia tak menerima perasaanku, bahkan aku melihat sebuah percakapan yang ia kirim kepadaku dan kata orang, itu merendahkan martabat orang. Ah, aku tak peduli dengan ucapan itu.
            Beberapa kali laki-laki ini mengucapkan nama untuk seseorang yang dia cintai? Yang sanggup untuk menjalankannya secara dewasa? Dan secara pantas untuk diperjalankannya jika kehendak mengizinkan? Aku sangat berharap, walau aku berucap, “Aku ingin bisa mengungkapkannya lagi dan berusaha untuk meyakini.” Tetapi, kemarin pada hari Selasa, bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda, aku tak tahu siapakah ia lagi. Aku tak mau berburuk sangka. Aku melihat seorang lelaki memegang tangannya ia dengan lama. Dan aku hanya terpaku melihatnya, meski sekarang aku berdiam diri saja, mencobanya kembali dengan perlahan.
            Dan banyak yang aku lihatkan dan tak mau aku tulis disini, ya, sampai sekarang rasa-rasa ini masih terus berganjalan di hati. Akankah aku bisa meraih ia lagi? Apakah aku bisa menggapai seseorang itu? Kalau bisa, aku ingin mendapatkannya bukan hanya sekedar memiliki, namun aku ingin menyentuh hatinya, dan aku tak peduli keburukan dan kebaikannya. Karena aku pun sama, kebaikan ada, dan keburukan rupa busuk pun ada. Akankah aku diberi kesempatan lagi untuknya? Aku berkali-kali mengucapkan kata dan nama untuknya dengan sepenggal doa-doa. Nyatanya, aku belum tahu kemudian. Aku bukanlah seorang pengejar cinta, seperti yang dikatakan dia, tidak! Aku bukan itu.
            Aku hanya secara jujur dan secara bersikap baik untuk membicarakannya ini. Sumpah, aku tak mau menyesal di kemudian harinya. Aku selalu takut dengan itu. Apakah aku pengecut? Tidak, namun memang itu. Sekarang pun, mungkin aku bisa mengungkapkannya pertama kali, tetapi dengan kedua kalinya kini? Aku belum tahu untuk waktu yang bisa menyelaraskan keadaan. Apakah aku bisa menggapai dia? Dan sepenggal terakhir: Aku mencitaimu dengan jujur.

Sunday, 6 September 2015

Proses Album


Reporter: Aflaha Rizal
Mantan personil JKT48 ini, yang meranah menjadi solo karir, Stella Cornelia, kemarin malam pun sukses menggelar mini konsernya dari acara Honda yang bertepatan di Cibinong City Mall, Cibinong, (05/09/2015). Perempuan yang lahir di kota Semarang 03 November 1994 ini, menampilkan dua lagunya yang berjudul “Inilah Aku” dan “Aku Menyerah”. Para fans yang dari JKT48 yang dulu sangat mengidolakan Stella yang dahulu masih di grup JKT48 yang membesarkannya itu, masih datang dan memberikan apresiasi yang terbaik. Tak heran, para fans dan dokumenter di salah satu bagian fanbase-nya itu, memotret Stela yang beraksi di mini konsernya yang penuh energik dan semangat dalam membawakan lagunya.
            Stella mengatakan, sekarang ia telah menuju proses dalam albumnya. Album yang akan dia keluarkan pun belum dipikirkan dari nama tema albumnya tersebut. Juga, album yang akan ia kerjakan ini, ada dua lagu yang akan masuk ke dalam album itu yang ia bawakan pada mini konser pada waktu malam. “Proses pembuatan album ini, masih dipikirin. Ya doakan saja, semoga lancar.” Ungkapnya dengan ramah.
            Stella juga merasakan, dahulu yang sekarang ini ternyata Nampak beda. Dulu yang bergabung bersama JKT48, ia mengatakan dulunya rame-rame waktu konser dan konsep dari grup JKT48 itu. “Ya, makanya aku yang sekarang, ya aku jalanin aja. Ilmu yang dulu di JKT48(mantan) aku pake disini, dan sekarang aku memulai dengan solo karir.” Katanya. “Dan ilmu itu gak akan pernah hilang, dan akan tetap terus aku pake disini(solo karir).” Tambahnya kemudian. Waktu saat di wawancara, Stella mengeluarkan logat bahasa Jawa saat ditanyakan yang dahulu masih bergabung di JKT48 itu. “Grup Apah.”
            Baginya yang sekarang, Stella mengeluarkan selalu mengeluarkan yang terbaik di solo sekarang ini. Dan tetap mengeluarkan kemampuannya Stella dalam bernyanyi untuk diberikan kepada fans-nya supaya tetap mendukung dia walau bukan tidak di JKT48 lagi. “Tampilin yang terbaik aja, dan berusaha dengan keras.” Ucapnya lagi.
            Perempuan yang sudah bermain film “Remember When”, “Kukejar Kau Sampai Di Negeri Cina”, “Bidadari Terakhir”. Film “Bidadari Terakhir” ini adalah film terbarunya yang akan keluar di bioskop pada tanggal 10 September 2015.

Salah Satu Dari Karyanya Sendiri
Dalam lagu yang Stella bawakan, yang akan dibawakan dalam mini konser malam kemarin, dan akan memasuki ke proses albumnya, lagu dari salah satu tersebut ada yang dari karya Stella sendiri. Dan manajemen Stella pun sangat mengerti untuk lagu yang sesuai dengan konsep dan segi vokal yang ada di diri Stella tersebut. Juga, dari projek tersebut adalah dari dalam diri Stella yang ia mau. “Manajemen selalu ngertiin, dan dari semua projek yang aku buat itu, aku banget, deh, pokoknya.” Ungkapnya, yang dulu bermain Bima Satria Garuda ini.
            Lagu “Inilah Aku” ini adalah karya yang ia buat sendiri, dari segi vokal yang ia kuasai itu. “Pokoknya mudah-mudahan lancar nanti, doakan saja.” Akunya dengan tersenyum. Ia juga mengatakan, meranah ke solo karir ini adalah tahap dimulai dari awal kembali saat dari awal memasuki ke grup JKT48 yang bertahan, lalu memutuskan untuk solo karir. “Temen-temen juga kebetulan, masih ngedukung aku yang sekarang prioritas yang aku pilih sekarang ini. Juga fans yang masih datang, masih terus kasih aku support sampai sekarang.” Ucapnya.
            Stella yang akan fokus ke bernyanyi ini, ternyata berpikir kemudian, setelah ia bernyanyi dan juga bermain film ini, baginya ini adalah hal yang nyaman untuknya. Ia juga mengatakan lagi, dua-duanya itu tak akan pernah terpisahkan yang ia jalankan sekarang ini. “Jadi kalau sambil dua-duanya kenapa enggak.” Tanggapnya.