Powered By Blogger

Monday, 8 June 2015

Kesunyian Hamparan Angin




30 Mei 2015, menjadi bagian dimana aku libur saat aktivitas sekolah, mencari ketenangan kesegaran yang aku jejaki pada hari itu. Jackloth Summer Fest 2015, aku menghadirinya karena lantaran aku ingin membeli pakaian baru saat yang ada di lemariku yang lama, kini sudah kecil dan sudah tidak layak pakai di badanku. Terpaksa kuberikan kepada adikku yang laki. Muat sekali. Bersama teman rumah yang kuhadiri, dengan kuajak saudaraku sepupu yang juga mau ikut. Aku menghadirinya saat pameran stand-stand baju-baju mulai menggelegar dengan kecerahan yang bagus.

            Panggung yang masih dalam keadaan check sound dan belum salah satu musisi yang manggung sesuai jadwal, mereka melakukan check sound dengan membawakan lagu satu saja untuk melancarkan semuanya supaya tidak ada kendala apa-apa saat musisi sungguhan mulai show a stage. Panas terik yang lama-lama membuatku pusing, para pengunjung pun kuat dan rela borong-borong baju yang ada di stand saat terik matahari mulai berlangsung. Sengaja aku panas-panasan dan sungguh membuatku nyaman, tetapi lama kelamaan pun pusing mulai terasa.

            Berlama saat disana dan sudah membeli baju sejumlah 4 baju, aku keluar dan mulai ke mall fX Sudirman hanya untuk meredakan keadaan di hamparan AC yang menyala dimana-mana. Sungguh yang tadinya keringat panas ketika di lapangan, ketika sudah didalam area dingin pun, keringat berubah menjadi keringat dingin. Hamparan panas tadi, tenggorokanku dehidrasi dan perut lapar pun semakin berguncang. Inti dari semua yang kurasakan, aku seperti pekerja paksa pada penjajahan Jepang, Romusha. Untungnya, aku bisa menyeimbangkan kualitas ion-ku dan gizi ku. Sungguh, kalau aku tidak mengisinya, mungkin seperti pada zaman penjajahan itu.

            Hamparan saat di Jackloth pun banyak sekali, stand yang sungguh nama brand itu sudah lazim di pikiranku, Dream Bird. Pengunjung banyak yang memborong pakaian yang bermerek burung hantu itu. Tadinya, kalau sempat, aku ingin membelinya. Namun, saat ke stand itu, sudah kosong dan sudah tutup. Bagian dalamnya pun saat kulihat, sudah tidak ada tumpukan baju atau jaket Dream Bird. Ini memang banyak sekali peminat yang ingin memiliki brand burung hantu itu. “Gila! Udah abis aja Dream Bird,” keluhku, melihatnya bertajuk aneh.

            “Namanya juga brand keren.” Kata Fikri, sepupuku yang kuajak kesini dan dia membeli baju yang dia suka. Aku mengangguk, “Iya sih, cuman ini mah parah. Udah abis aja, barusan masuk baru diborong, giliran mau kesitu, udah tutup.” Tambahku, sedikit masih tidak percaya melihatnya. Akhirnya, mungkin aku bisa membeli baju itu nanti. Lauk pauk yang menjadi andalanku ketika siang itu, begitu mengenyangkan di perut. Setelah keluar, rasa lapar pun bertahan hingga lama. Sampai pada akhirnya, aku naik ke puncak rooftop yang begitu tinggi, dan angin bermain-main dengan sedikit kencang.

            Aku merasakannya ketika itu sunyi berada di puncak paling atas, dan hanya sedikit mendengar suara-suara klakson kendaraan, dan juga suara kendaraan seperti motor. Aku melihat dan duduk sila saat di pinggir rooftop. Aku melihat ke bawah, Gelora Bung Karno terlihat begitu jelas. Di bawah sana, terdapat polisi ada 4. Saat ini, operasi razia lagi besar-besaran. Terdapat di kota mana saja. Ketika sepupuku dan dua temanku yang bersama-sama menaiki puncak rooftop, mereka sempat-sempatnya mengambil view di puncak rooftop.

            Aku mengambil ketika aku berpose yang sedang menatap langit dan melihat ke sebelah kiri dengan gerakan kepalaku. Pose itu, dari belakang. Berdiri diatas puncak ini, begitu aku bisa merasakannya begitu sunyi dan bisa menghempaskan apa yang ada. Angin  yang seakan membantuku untuk melepaskan beban yang ada, meskipun tinggi dan begitu seram saat aku melihat ke bawah yang terdapat bagian kendaraan yang kecil seperti mainan. Tetapi, aku begitu menikmatinya, dan puas sekali melihat banyaknya gedung-gedung Jakarta yang terlihat jelas ketika siang itu. Kali itu, aku begitu puas saat berada disana.

            Hingga pada akhirnya sempat ingin pulang dan berjalan mencari angkutan umum untuk mengantarkan ke stasiun kereta. Begitu melihatnya tadi, aku bisa kembali segar dan puas sekali bisa ada disana. Meskipun sulit untuk menggapainya, aku begitu senang di hari itu. I fresh this day, because blow playing with me. And make a happy in world and happy in my heart.

No comments:

Post a Comment