Powered By Blogger

Monday, 22 June 2015

Aku Hanyalah Makhluk Yang Berdosa



Hidup yang selalu berbeda-beda, membuatku melihatnya dengan jeli. Hidup mereka yang serba mewah, ada yang hidup mereka yang serba sederhana, ada juga yang hidup mereka yang serba miskin. Tak terhingga berapa semua manusia di seluruh negara yang hidup di dunia penuh dengan kekerasan juga nafsu yang tinggi. Semuanya berbeda dengan kepercayaan dan agamanya masing-masing. Yang Islam, ya Islam. Kristen, ya Kristen, Budha, ya Budha, Hindu, ya Hindu. Menaiki usia hidupku yang ke 18 nanti, aku begitu melihat beberapa kerab didalam diriku yang aku anggap kotor bahkan busuk. Seperti bangke dicampur tinja-tinja binatang.
           
            Selagi manusia yang selalu bersamaku, canda tawa, hiruk pikuk atau apa yang serba bisa menyerukan di dunia ini. Aku menyamakan, bahwa aku dan mereka sama. Namun, dalam kerab apa yang mereka punya, sungguh berbeda dariku. Bukan segi materi, segi kemehawan, segi unsur tujuh turunan. Namun yang bikin beda, dosa-dosa yang mereka punya. Aku tidak akan pernah tahu selain Tuhanku Allah SWT yang bisa melihat dosa-dosa umatnya yang masih hidup di dunia ini.

            Mencakar, berantem di kala aku sedang di isengi oleh satu temanku yang menyembunyikan tas ku, mengeluarkan kata-kata yang kotor bahkan bawa-bawa binatang, serta banyak dosa-dosaku yang mungkin aku lupa apa yang pernah aku lakukan hingga menyebabkan dosa-dosa buruk bahkan busuk. Sisi lain, aku berusaha mengimbangi dengan kebaikan, apa yang aku jalankan. Meskipun mimpi apa yang sedang aku kejar, belum terlihat dan selalu jatuh di pertengahan.

            Aku pernah, memimpikan apa yang aku impikan. Bisa berada di panggung, bernyanyi, bahkan kalau boleh sambil memegang gitar meskipun tak seperti pemain gitar yang puncak level-nya sudah pro bahkan tak bisa dilawan dengan yang masih level Easy maupun Normal. Menjadi Jurnalistik, memimpikan sebagai wartawan yang mengejar informasi berita untuk surat kabar, news anchoor yang selalu nongol di Televisi berita-berita, membuat sebuah buku berbentuk Novel yang bisa dikatakan penulis, mempunyai kehidupan layak, dan banyak.

            Seberapa pun dosa-dosaku, aku masih ingin bisa meneruskan langkah-langkah kakiku yang menuju apa yang belum kuketahui di masa depan. Ayahku pernah berkata, “Kamu bakalan tau masa depan nanti, sekarang kamu rasain saja apa yang kamu suka.” Great! Contohnya, kesukaan yang aku sedang jalani, ialah Rooftoping. Selalu saja aku ingin bisa menaiki beberapa gedung tinggi di Jakarta, meskipun hanya dua gedung saja yang berhasil aku jajaki.

            Seberapa pun dosa-dosaku, aku ingin terus mengingat segala apa yang udah diciptakan hingga terbentuk 100 persen normal. Tapi, apakah aku yang sudah beratus-ratus juta dosa yang ada didalam diriku, masih boleh memegang Al-Qur’an? Sehabis sholat maghrib pun kelak aku lakukan. Membaca dengan suara seperti orang-orang yang sering menuturkan nada saat sedang membaca Al-Qur’an.

            Seberapa pun dosa-dosaku, aku masih ingin terus menjalani ibadah apa yang diperintahkan darinya. Meskipun dosa didalam diriku kotor, aku ingin mengimbanginya dengan kebaikan. Sebera pun dosa-dosaku, aku ingin kelak hidupku bahagia, sebagai calon imam nanti di masa yang akan datang, aku ingin kelak bisa hidup bahagia atas karunianya. Hingga hidup dengan agama, hingga mati aku ingin tetap tersenyum di hadapanmu, Ya Allah.

            Meskipun begitu, aku masih teringat akan perbuatan apa yang pernah ku perbuat. Yang bisa menjadikan sebuah dosa/kotoran yang menciprat di sekujur baju putihku yang suci ini. Dan aku, hanyalah makhluk yang berdosa.

No comments:

Post a Comment