Hidup yang selalu berbeda-beda, membuatku melihatnya dengan jeli. Hidup mereka
yang serba mewah, ada yang hidup mereka yang serba sederhana, ada juga yang
hidup mereka yang serba miskin. Tak terhingga berapa semua manusia di seluruh
negara yang hidup di dunia penuh dengan kekerasan juga nafsu yang tinggi.
Semuanya berbeda dengan kepercayaan dan agamanya masing-masing. Yang Islam, ya
Islam. Kristen, ya Kristen, Budha, ya Budha, Hindu, ya Hindu. Menaiki usia
hidupku yang ke 18 nanti, aku begitu melihat beberapa kerab didalam diriku yang
aku anggap kotor bahkan busuk. Seperti bangke dicampur tinja-tinja binatang.
Selagi manusia yang selalu
bersamaku, canda tawa, hiruk pikuk atau apa yang serba bisa menyerukan di dunia
ini. Aku menyamakan, bahwa aku dan mereka sama. Namun, dalam kerab apa yang
mereka punya, sungguh berbeda dariku. Bukan segi materi, segi kemehawan, segi
unsur tujuh turunan. Namun yang bikin beda, dosa-dosa yang mereka punya. Aku
tidak akan pernah tahu selain Tuhanku Allah SWT yang bisa melihat dosa-dosa
umatnya yang masih hidup di dunia ini.
Mencakar, berantem di kala aku
sedang di isengi oleh satu temanku yang menyembunyikan tas ku, mengeluarkan
kata-kata yang kotor bahkan bawa-bawa binatang, serta banyak dosa-dosaku yang
mungkin aku lupa apa yang pernah aku lakukan hingga menyebabkan dosa-dosa buruk
bahkan busuk. Sisi lain, aku berusaha mengimbangi dengan kebaikan, apa yang aku
jalankan. Meskipun mimpi apa yang sedang aku kejar, belum terlihat dan selalu
jatuh di pertengahan.
Aku pernah, memimpikan apa yang aku
impikan. Bisa berada di panggung, bernyanyi, bahkan kalau boleh sambil memegang
gitar meskipun tak seperti pemain gitar yang puncak level-nya sudah pro bahkan
tak bisa dilawan dengan yang masih level Easy maupun Normal. Menjadi
Jurnalistik, memimpikan sebagai wartawan yang mengejar informasi berita untuk
surat kabar, news anchoor yang selalu nongol di Televisi berita-berita, membuat
sebuah buku berbentuk Novel yang bisa dikatakan penulis, mempunyai kehidupan
layak, dan banyak.
Seberapa pun dosa-dosaku, aku masih
ingin bisa meneruskan langkah-langkah kakiku yang menuju apa yang belum
kuketahui di masa depan. Ayahku pernah berkata, “Kamu bakalan tau masa depan
nanti, sekarang kamu rasain saja apa yang kamu suka.” Great! Contohnya,
kesukaan yang aku sedang jalani, ialah Rooftoping. Selalu saja aku ingin bisa
menaiki beberapa gedung tinggi di Jakarta, meskipun hanya dua gedung saja yang
berhasil aku jajaki.
Seberapa pun dosa-dosaku, aku ingin
terus mengingat segala apa yang udah diciptakan hingga terbentuk 100 persen
normal. Tapi, apakah aku yang sudah beratus-ratus juta dosa yang ada didalam
diriku, masih boleh memegang Al-Qur’an? Sehabis sholat maghrib pun kelak aku
lakukan. Membaca dengan suara seperti orang-orang yang sering menuturkan nada
saat sedang membaca Al-Qur’an.
Seberapa pun dosa-dosaku, aku masih
ingin terus menjalani ibadah apa yang diperintahkan darinya. Meskipun dosa
didalam diriku kotor, aku ingin mengimbanginya dengan kebaikan. Sebera pun
dosa-dosaku, aku ingin kelak hidupku bahagia, sebagai calon imam nanti di masa
yang akan datang, aku ingin kelak bisa hidup bahagia atas karunianya. Hingga
hidup dengan agama, hingga mati aku ingin tetap tersenyum di hadapanmu, Ya
Allah.
Meskipun begitu, aku masih teringat
akan perbuatan apa yang pernah ku perbuat. Yang bisa menjadikan sebuah
dosa/kotoran yang menciprat di sekujur baju putihku yang suci ini. Dan aku,
hanyalah makhluk yang berdosa.

No comments:
Post a Comment